Operasi SAR Kecelakaan Kereta Rampung, Kabasarnas: 100 Persen Evakuasi Perempuan Sukses

Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengonfirmasi bahwa operasi SAR terkait kecelakaan kereta api KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur telah selesai dilaksanakan.
Berdasarkan informasi terkini hingga pukul 08.45 WIB, terdapat 14 orang yang dinyatakan meninggal dunia, sementara 84 orang lainnya mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Syafii menekankan bahwa seluruh korban yang berhasil dievakuasi adalah perempuan.
“Alhamdulillah, kami dari Basarnas, bersama TNI-Polri dan berbagai potensi lainnya, telah menyelesaikan operasi SAR dalam waktu kurang dari 12 jam. Insiden ini terjadi pada pukul 08.57 malam, di mana dua kereta, yaitu kereta Commuter dan Argo Anggrek, terlibat dalam kecelakaan,” ujar Syafii di Stasiun Bekasi Timur pada Selasa, 28 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa semua korban telah berhasil dievakuasi, termasuk beberapa di antaranya yang memerlukan penanganan khusus melalui proses ekstrikasi, yaitu mengeluarkan korban yang terjepit dengan sangat hati-hati untuk menghindari cedera yang lebih parah.
“Pertanyaan muncul mengapa lokomotif tidak ditarik bersamaan dengan gerbong. Kami harus menunggu karena masih ada lima korban yang terjebak dan perlu dilakukan ekstrikasi agar mereka dapat diselamatkan tanpa memperparah kondisi mereka,” jelas Syafii.
Syafii menegaskan bahwa tim SAR dan semua unsur yang terlibat telah menyelesaikan proses evakuasi di Stasiun Bekasi Timur. Operasi SAR ini dinyatakan selesai pada Selasa pagi pukul 08.00 WIB. “Saya pastikan tidak ada lagi korban yang ditemukan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kabasarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii telah memberikan instruksi kepada tim SAR untuk tidak menggeser gerbong kereta selama proses evakuasi korban kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko cedera yang lebih serius.
Tim penyelamat memfokuskan usaha mereka pada teknik pemotongan dan pengangkatan material untuk memisahkan tubuh korban dari jepitan logam di kereta.
“Kami tidak ingin ada pergerakan yang dapat memperburuk keadaan mereka. Ekstrikasi dilakukan dengan sangat hati-hati hingga tubuh korban dapat terpisah dari material yang menghimpit,” tuturnya saat memantau langsung proses evakuasi di Stasiun Bekasi Timur.
➡️ Baca Juga: Isu Minoritas di Indonesia: Memahami Tantangan dan Solusi
➡️ Baca Juga: Estupinan Cetak Gol Penting Bawa AC Milan Kalahkan Inter dalam Pertandingan Krusial



