Gen Z Menghadapi Tantangan Fokus dan Daya Ingat, Waspada Terhadap Epidemik Brainrot

Jakarta – Dalam era di mana teknologi dan koneksi informasi berkembang pesat, perhatian terhadap generasi muda kembali meningkat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa terdapat lonjakan signifikan dalam laporan gangguan kognitif di kalangan individu muda, terutama yang tergolong dalam Generasi Z.
Kondisi yang diamati bukanlah demensia, melainkan lebih pada keluhan subjektif seperti kesulitan untuk berkonsentrasi, mudah lupa, dan tantangan dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Fenomena ini sering kali dihubungkan dengan istilah “brainrot”, yang merujuk pada keadaan di mana otak mengalami kelelahan akibat paparan informasi digital yang berlebihan. Meskipun istilah ini bukan istilah medis formal, tren yang terungkap dari data penelitian ini membuat para ahli semakin memperhatikan dampak negatifnya terhadap gaya hidup generasi muda.
Adam de Havenon, seorang peneliti di Yale School of Medicine, menekankan pentingnya memahami temuan ini dengan hati-hati. “Masalah terkait memori dan cara berpikir kini muncul sebagai salah satu isu kesehatan yang signifikan yang dilaporkan oleh orang dewasa di Amerika Serikat,” ungkapnya, sebagaimana dilansir oleh Inc, Senin, 27 April 2026.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sebagai diagnosis gangguan otak yang klinis. “Ini bukanlah diagnosis demensia atau bahkan gangguan kognitif. Ini merupakan laporan subjektif dari individu yang merasa mengalami kesulitan yang nyata dalam hal konsentrasi, ingatan, atau pengambilan keputusan.”
Data dari studi menunjukkan bahwa kelompok usia 18 hingga 34 tahun mengalami hampir dua kali lipat peningkatan dalam laporan kesulitan kognitif selama satu dekade terakhir. Angka ini meroket dari 5,1 persen pada tahun 2013 menjadi 9,7 persen pada tahun 2023, menjadikannya yang paling mencolok di antara kelompok usia lainnya.
Para peneliti berpendapat bahwa perubahan gaya hidup digital mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya. Tingginya waktu yang dihabiskan di depan layar, kebiasaan multitasking, dan konsumsi informasi secara cepat melalui media sosial diduga berkontribusi terhadap penurunan kemampuan fokus jangka panjang.
Dalam pandangan yang lebih luas, neuroscientist Jared Cooney Horvath juga menyoroti perubahan ini. “Dalam dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di banyak negara maju menunjukkan kecenderungan melambat, bahkan dalam beberapa aspek mengalami kemunduran,” ujarnya.
Ia juga menunjukkan bahwa kebijakan yang terburu-buru dalam mendorong adopsi teknologi sering kali diambil tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Meskipun belum ada kesimpulan yang menyatakan bahwa teknologi adalah penyebab utama, banyak kalangan mulai mengaitkan fenomena ini dengan perubahan gaya hidup modern yang dihadapi oleh generasi saat ini.
➡️ Baca Juga: Dean James Ungkap Dampak Paspoortgate yang Membuatnya Stres hingga Matikan Ponsel
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Payung Kuat dan Tahan Angin untuk Musim Hujan yang Efektif




