Singapura Menolak Usulan Purbaya untuk Pungut Tarif Melintas di Selat Malaka

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, memberikan tanggapan tegas terhadap wacana mengenai pembatasan di Selat Malaka. Ia menekankan pentingnya menjaga jalur perairan strategis ini tetap terbuka untuk kepentingan negara-negara yang berada di sekitarnya, khususnya di kawasan Asia.
Dalam hal ini, Balakrishnan menolak usulan Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengemukakan ide untuk memberlakukan tarif di Selat Malaka. Menurutnya, hak untuk melintas di jalur pelayaran ini telah diatur dan dijamin bagi semua negara tanpa terkecuali.
“Hak melintas dijamin untuk setiap negara. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun yang bertujuan untuk menutup, mencegat, atau mengenakan biaya di wilayah kami,” ungkap Balakrishnan dalam pernyataannya kepada CNBC pada Rabu, 23 April 2026.
Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa ia pernah mempertimbangkan kemungkinan penerapan tarif atau pajak untuk lintasan di Selat Malaka, terinspirasi oleh langkah yang diambil pemerintah Iran terkait Selat Hormuz.
Menurut Purbaya, gagasan tersebut bukanlah hal yang mustahil, mengingat posisi strategis Indonesia yang terletak di persimpangan jalur perdagangan dan energi global.
“Seperti yang diperintahkan oleh presiden, Indonesia bukanlah negara pinggiran. Kita berada di jalur perdagangan dan energi dunia yang sangat strategis,” jelas Purbaya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, pada Rabu, 22 April 2026.
Namun, ia juga menyatakan, “Tapi kapal yang melewati Selat Malaka tidak dikenakan biaya, entahlah itu benar atau salah?”
Purbaya berpendapat bahwa jika Indonesia, Malaysia, dan Singapura dapat bekerja sama dalam mengenakan tarif atau pajak untuk perlintasan kapal di Selat Malaka, maka hal itu akan memberikan keuntungan ekonomi bagi ketiga negara tersebut.
“Jadi, jika kita membagi pajak Selat Malaka secara merata, itu akan menguntungkan Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kita memiliki jalur yang paling besar dan terpanjang,” imbuhnya. Walaupun begitu, ia juga menyadari bahwa merealisasikan ide tersebut akan menghadapi berbagai tantangan yang cukup signifikan.
Selat Malaka memiliki peran yang sangat penting dan sering dibandingkan dengan Terusan Suez serta Selat Hormuz. Selat ini menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik dan merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki batas langsung dengan Selat Malaka, yang merupakan salah satu rute perdagangan global yang paling vital. Dengan lebar terjauh yang hanya sekitar dua mil laut, selat ini menjadi titik krusial dalam distribusi energi di Asia Timur, termasuk untuk pengiriman ekspor ke China.
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Alat Fitness Minimalis untuk Ruang Kamar Kost yang Terbatas
➡️ Baca Juga: Analisis Efektivitas Strategi Pressing Tinggi dalam Sepak Bola Modern Saat Ini




