Nelayan Maluku Tengah Dilaporkan Hilang dan Terombang-ambing Hingga Raja Ampat

Seorang nelayan yang berasal dari Dusun Administrasi Parigi, Desa Wahai di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, dilaporkan hilang kontak selama beberapa hari. Berita baiknya, ia berhasil ditemukan dalam keadaan lemas di wilayah Perairan Desa Yelu, yang terletak di Pulau Misol, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon, Maluku, Muhamad Arafah, menjelaskan bahwa nelayan tersebut yang bernama Roni Fatubun (40 tahun) awalnya ditemukan dan diselamatkan oleh masyarakat setempat di sekitar Perairan Desa Yelu.
“Ditemukan bersama perahu panjang miliknya pada Sabtu, 11 April 2026, sekitar pukul 18.00 WIT,” ujar Arafah pada malam tanggal 12 April 2026.
Setelah diselamatkan oleh masyarakat, korban segera diserahkan kepada Pos Patroli Laut TNI AL di Pulau Misol untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.
“Pada hari kedua, upaya pencarian korban dilanjutkan oleh Tim SAR Gabungan. Sejak pukul 07.00 WIT, tim dikerahkan menggunakan RIB untuk melakukan pencarian di sejumlah titik koordinat,” jelasnya.
Sekitar satu jam setelah itu, tim SAR Gabungan menerima laporan dari Kapolsek Wahai, yang menginformasikan bahwa korban telah ditemukan dalam keadaan selamat di sekitar Perairan Pulau Misol. Saat itu, korban sedang mendapatkan perawatan di Pos Patroli Laut TNI AL.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, tim berkoordinasi dengan pihak keluarga yang juga ikut mencari korban di sekitar Perairan Pulau Misol.
“Alhamdulillah, keluarga kini sudah tiba di Pos Patroli TNI AL untuk menjemput korban dan membawanya kembali ke Dusun Parigi,” tambahnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam kembali ke Pulau Seram, korban bersama keluarganya akhirnya tiba dengan selamat di Dusun Parigi pada pukul 17.00 WIT.
Awalnya, Unit Siaga SAR Bula di Kabupaten Seram Bagian Timur menerima informasi mengenai kondisi yang membahayakan jiwa dari Kapolsek Wahai pada Sabtu, 11 April 2026, sekitar pukul 13.20 WIT.
Dalam laporan yang diterima, diketahui bahwa korban bertolak dari Pulau Misol menuju Kabupaten Seram Bagian Timur pada tanggal 9 April sekitar pukul 15.00 WIT dan diperkirakan tiba di tujuan pada tanggal 10 April. Namun, korban tidak sampai di tempat tujuan yang dijadwalkan.
Operasi pencarian dan penyelamatan ini melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, Polairud, TNI AL, serta masyarakat setempat, menunjukkan kolaborasi yang solid dalam menghadapi situasi darurat.
➡️ Baca Juga: Airlangga Tegaskan Komitmen Prabowo untuk Menjaga Utang 40 Persen dan Defisit 3 Persen
➡️ Baca Juga: Timnas Iran Siapkan Aksi Menarik Jelang Piala Dunia 2026, Tas Sekolah Jadi Simbol Duka




