32 Juta Orang Terancam Jatuh ke Jurang Kemiskinan Akibat Perang AS-Israel dan Iran

Konflik yang terjadi di Timur Tengah kembali menimbulkan kekhawatiran yang luas di seluruh dunia. Menurut laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dampak ekonomi dari perang yang melibatkan Iran dapat mendorong jutaan orang ke dalam jurang kemiskinan, terutama di negara-negara yang sedang berkembang.
Kondisi ini semakin diperparah dengan lonjakan harga energi dan makanan, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi secara global. Tekanan yang dihasilkan dari situasi ini sangat besar bagi negara-negara dengan ketahanan ekonomi yang lebih rentan, sehingga risiko kemiskinan meningkat secara signifikan.
Dalam laporan yang dirilis di tengah ketidakpastian mengenai gencatan senjata, Program Pembangunan PBB (UNDP) mengungkapkan bahwa dunia saat ini menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “triple shock”, yaitu tiga guncangan bersamaan: krisis energi, krisis pangan, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Diperkirakan lebih dari 32 juta orang di seluruh dunia berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan akibat dampak ekonomi dari konflik ini. Negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak yang merugikan ini.
Alexander De Croo, Administrator UNDP, menekankan bahwa konflik ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pencapaian pembangunan global. “Konflik semacam ini merupakan langkah mundur bagi upaya pembangunan. Meskipun jika perang berakhir, dan gencatan senjata sangat diharapkan, dampaknya sudah terjadi,” ujarnya, seperti yang dilaporkan oleh The Guardian pada Senin, 13 April 2026.
“Dampak tersebut akan terasa dalam jangka panjang, terutama di negara-negara yang lebih miskin, di mana banyak orang yang kembali terjebak dalam kemiskinan. Hal ini sangat menyedihkan, karena orang-orang yang terdorong ke dalam kemiskinan sering kali adalah mereka yang sebelumnya pernah berhasil keluar dari kondisi tersebut,” tambahnya.
Lonjakan harga energi menjadi salah satu penyebab utama krisis ini. Dalam enam minggu setelah serangan udara pertama oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran, harga energi meningkat dengan tajam. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga menghambat pasokan minyak dan gas secara global.
Dampak berkelanjutan dari situasi ini juga memengaruhi pasokan pupuk dan distribusi logistik di seluruh dunia. Para ahli bahkan memperingatkan adanya potensi ‘bom waktu ketahanan pangan’ yang dapat mengancam negara-negara berkembang.
Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyatakan bahwa dampak dari konflik ini telah meninggalkan bekas yang mendalam pada perekonomian global. Ia menambahkan bahwa walaupun perdamaian jangka panjang bisa tercapai, kerusakan yang ditimbulkan tetap akan terasa.
➡️ Baca Juga: Pemain Italia Ajukan Permintaan Bonus Besar Sebelum Gagal ke Piala Dunia 2026
➡️ Baca Juga: Anggota DPR Menyatakan Pembatasan Pembelian Pertalite 50 Liter Per Hari Adalah Kebijakan Adil




