Legenda Liverpool, Jamie Carragher, mengungkapkan kritik tajam terhadap penampilan tim dan pelatih Arne Slot setelah kekalahan 0-2 dari Paris Saint-Germain (PSG) pada leg pertama perempat final Liga Champions di Parc des Princes, Rabu, 8 April 2026. Kekalahan ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai strategi dan performa pemain, terutama di saat yang sangat krusial.
PSG membuka skor lebih awal pada menit ke-11 melalui gol Desire Doue, diikuti oleh Khvicha Kvaratskhelia yang menggandakan keunggulan pada menit ke-55. Sepanjang pertandingan, Liverpool tampak kesulitan untuk mengembangkan permainan dan bahkan tidak mampu menciptakan satu pun tembakan yang tepat sasaran. Hal ini menunjukkan bahwa tim asuhan Arne Slot berada dalam tekanan yang luar biasa.
Statistik mencatat bahwa Liverpool hanya menguasai bola sebesar 26 persen, sementara PSG dominan dengan 74 persen penguasaan bola dan melepaskan 17 tembakan, dengan tujuh di antaranya tepat sasaran. Angka-angka ini menggambarkan betapa jauh tertinggalnya Liverpool dalam hal penguasaan permainan dan efektivitas serangan.
Carragher menilai strategi yang diterapkan oleh Arne Slot sebagai faktor utama dari performa buruk tim. Ia mengkritik penggunaan formasi lima bek yang justru membuat pertahanan Liverpool menjadi lebih terbuka dan rentan. Pendekatan taktik ini dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan tim.
“Manajer telah mencoba sesuatu yang baru, tetapi keputusan taktisnya adalah kesalahan besar,” ujar Carragher, seperti yang dilaporkan oleh Sportbible pada Jumat, 10 April 2026. Pernyataan ini menunjukkan ketidakpuasan Carragher terhadap pilihan formasi yang diambil oleh pelatih.
Ia juga menambahkan bahwa sistem ini memaksa tiga bek tengah untuk menutup area yang terlalu luas, sehingga pertahanan Liverpool mudah ditembus. Carragher bahkan menyamakan penampilan Liverpool dengan tim dari liga yang lebih rendah, yang menunjukkan betapa parahnya situasi yang dihadapi tim saat itu.
Selain masalah taktik, Carragher juga menyoroti performa individu beberapa pemain, terutama Ibrahima Konate, yang dinilai telah tampil mengecewakan sepanjang musim ini, termasuk dalam laga melawan PSG. Kinerja Konate yang tidak stabil menjadi sorotan utama dalam analisis Carragher.
Menurutnya, situasi tersebut menambah beban bagi Virgil van Dijk, yang harus bekerja lebih keras di lini belakang. Carragher berpendapat bahwa kritik yang ditujukan kepada Van Dijk selama ini terlalu berlebihan, mengingat tanggung jawab besar yang harus ia emban sebagai kapten pertahanan.
“Konate melakukan kesalahan di setiap pertandingan, sehingga tidak mudah untuk bermain bersamanya,” kata Carragher, menekankan pentingnya konsistensi dalam penampilan seorang bek tengah. Ujaran ini semakin memperjelas kekhawatiran yang ada di benak Carragher tentang kontribusi Konate terhadap tim.
Ia juga mengamati bahwa Van Dijk terlihat sangat tidak nyaman dengan sistem tiga bek yang diterapkan dalam laga tersebut. Ketidaknyamanan ini dapat mempengaruhi fokus dan kinerja sang kapten dalam mengorganisir lini belakang.
Di sisi lain, Carragher tidak ragu untuk memberikan pujian kepada PSG, yang ia nilai tampil sangat mengesankan. Permainan tim besutan Luis Enrique ini, menurutnya, mengingatkan pada era kejayaan Barcelona di bawah asuhan Pep Guardiola, di mana penguasaan bola dan serangan efektif menjadi kunci utama.
Kekalahan ini menjadi tantangan besar bagi Liverpool menjelang leg kedua yang akan diadakan di Anfield. Pertanyaan mengenai efektivitas taktik yang diterapkan dalam laga penting Liga Champions ini pun semakin mengemuka, dan semua mata kini tertuju pada bagaimana Liverpool akan merespons situasi yang sulit ini.
➡️ Baca Juga: Kebakaran Pabrik Otomotif Daejeon Korsel, 55 Orang Terluka dan 14 Masih Hilang
➡️ Baca Juga: Harga BBM Naik, DFSK Manfaatkan Kesempatan Besar untuk Mobil Listrik di Pasar Indonesia

