Jakarta – Hari Raya Idul Fitri di Indonesia bukan hanya sekadar perayaan religius, tetapi juga menjadi momen yang sangat berarti untuk memperkuat hubungan dengan keluarga dan kerabat dekat.
Tradisi saling mengunjungi dan berkumpul saat Lebaran menciptakan atmosfer yang hangat, di mana keakraban dan kebersamaan menjadi inti dari interaksi antaranggota keluarga. Mari kita telusuri lebih dalam!
Namun, di balik kedekatan ini, sering kali muncul berbagai pertanyaan pribadi yang menyentuh aspek-aspek kehidupan individu. Pertanyaan yang berkaitan dengan karier, pendidikan, hingga yang paling umum ditanyakan: “Kapan nikah?”
Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan dalam kehidupan pribadi, pertanyaan ini bisa terasa sangat sensitif dan bahkan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana MSc MPsi Psikolog, mengungkapkan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan budaya kolektivistik yang kental di masyarakat Indonesia. Dalam budaya semacam ini, kehidupan individu sering kali dilihat sebagai bagian dari kehidupan kolektif dalam keluarga atau komunitas yang lebih luas.
“Aturan sosial dalam konteks ini menunjukkan kepedulian, di mana orang-orang ingin memastikan bahwa mereka yang berinteraksi dalam lingkungan mereka berada dalam keadaan baik-baik saja. Mereka ingin melihat adanya kemajuan dari tahun sebelumnya. Namun, dalam konteks yang kurang positif, ini bisa menjadi bentuk kepo yang melanggar batas privasi, dan inilah yang menjadi masalah,” jelas Atika, seperti yang dilansir dari laman resmi UNAIR pada 17 Maret 2026.
Dampak Pertanyaan Personal bagi Individu
Atika menambahkan bahwa pertanyaan yang tidak sesuai harapan dalam interaksi sosial dapat menimbulkan rasa kecewa atau ketidaknyamanan.
“Ketika pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga muncul, inilah yang seringkali membuat kita merasa tidak nyaman. Terutama jika pertanyaan tersebut berkaitan dengan isu yang sedang membebani pikiran kita,” ungkap Atika.
Ia juga menjelaskan bahwa pertanyaan yang menyentuh topik sensitif bisa saja membangkitkan kembali perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami seseorang.
“Misalnya, ada individu yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi atau mungkin ia harus mundur dari perkuliahan karena berbagai alasan. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan yang menyentuh hal tersebut akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan kesedihan,” tambah Atika.
➡️ Baca Juga: Bebaz Labz: Pemimpin Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ambisi PhotoBebaz
➡️ Baca Juga: Boni Hargens Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Pernyataan Dasco Mengenai Persatuan Nasional

